Select Page
Beberapa foto hasil karya Yasu Suzuka

Pameran Foto Pinhole Camera

 

JAKARTA – Pusat Kebudayaan Jepang (The Japan Foundation, Jakarta) menggelar pameran foto pinhole camera karya Profesor Yasu Suzuka dengan tajuk “Sacred Places in Japan”. Lulusan Tama Art University ini akan memajang karya-karya fotografi terbaik hasil ciptaannya di Hall The Japan Foundation, Jakarta mulai tanggal 26 Agustus

Profesor Yasu Suzuka merupakan lulusan Tama Art University yang kemudian melanjutkan studi program beasiswa di Institut Seni San Fransisco dengan jurusan fotografi. Dia mendapatkan gelar Profesor Emiritus dari Kyoto University of Art and Design. Sebelumnya Yasu Suzuka juga pernah memamerkan karyanya di Jakarta. Di pameran ‘Abad Fotografi‘ yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, tahun lalu dia memajang karya fotografi berjudul ‘Tapestri tangan biksu Budha’.

Ruang pameran foto pinhole camera

Apa itu Pinhole Camera?

Pinhole camera adalah kamera yang tidak menggunakan lensa. Sebagai gantinya, kamera ini menggunakan bukaan (aperture) yang sangat kecil sebesar lubang jarum. Kamera ini adalah jenis kamera yang paling primitif. Cahaya dari luar akan masuk melalui aperture tersebut dan memproyeksikan gambar yang terbalik yang kemudian ditangkap oleh kamera. Efek proyeksi gambar terbalik ini disebut efek camera obscura.

Teknik menghasilkan gambar dengan menggunakan pinhole camera sedikit berbeda dengan kamera konvensional. Setelah membidik kamera ke objek, fotografer harus mengukur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam lubang. Dan karena lubangnya sangat kecil, maka diperlukan pajanan (exposure) yang lebih lama dibandingkan kamera konvensional. Waktu pajanan ini bervariasi antara beberapa detik sampai hitungan jam.

Bayangkan menangkap gambar bukan menggunakan teknik mekanik melainkan menggunakan naluri anda. Anda dapat melihat dunia baru yang tidak akan bisa anda capai dengan mata telanjang atau teknik konvensional.

Tidak seperti fotografi konvensional, pinhole camera bukan dibuat dengan tujuan untuk menangkap suatu momen, tetapi untuk merekam secara perlahan perjalanan waktu, pergerakan awan, dan pemandangan yang selalu berubah melalui lubang kecilnya. Proses ini memberikan kita pemahaman bagaimana orang pada zaman dahulu hidup dengan mengacu pada matahari. Mereka bangun pada saat matahari terbit dan tidur pada saat matahari terbenam. Ini adalah sentimen yang telah hilang dan dilupakan oleh manusia modern yang hidup di zaman sekarang.

Pameran foto ini akan berlanjut hingga 7 September 2017 mendatang.

Ikuti Pusat Kebudayaan Jepang di Facebook, Twitter dan Instagram.

 

Baca info menarik lainnya di sini.